Indonesiaku nan Permai

Curhat 4 Komentar »

Para Dulur,

Tulisan ini bukan untuk menantang dunia agar meng-embargo negara tercinta ini, tetapi untuk membuka mata kita bahwa kita selayaknya bangga dengan Negeri Indonesia yang segalanya ada. Membaca email dari millis wongkito.net yang berjudul asli “Indonesiaku di Mata Orang Singapore” menggugah hati saya untuk menampilkan tulisan tersebut di website kesayangan kita, Benakat.com. Berikut tulisannya :

Info – Dari milis tetangga

Suatu pagi di Bandar Lampung, menjemput seseorang di bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si bapak.

Si bapak adalah pengusaha asal Singapura, dengan logat bicara gaya melayu, english, (atau singlish?) beliau menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis, spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe..

“Your country is so rich!”
Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu.. ” Indonesia doesnt need d world, but d world need Indonesia ” “Everything can be found here in Indonesia , u dont need d world” “Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia!” “Singapore is nothing, we cant be rich without indonesia. 500.000 orang indonesia berlibur ke singapura setiap bulan. bisa terbayang uang yang masuk ke kami? Apartemen-apartemen dan condo terbaru kami yang membeli pun orang-orang indonesia, nggak peduli harga yang selangit, laku keras. Lihatlah rumah sakit kami, orang indonesia semua yang berobat.”

“Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya benar-benar panik, sangat berasa, we are nothing.” “Kalian nggak tau kan kalo Agustus kemarin dunia krisis beras, termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras” “Lihatlah negara kalian, air bersih dimana-mana. Lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya pernah ke Kalimantan, bahkan pasir pun mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada matahari bersinar. Petani disana menjual Rp3000/kg ke sebuah pabrik China. Dan si pabrik menjualnya kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya melihatnya sendiri”

“Kalian sadar tidak klo negara-negara lain selalu takut meng-embargo Indonesia? Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalo kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah dari petani-petani kita sendiri, beli lah tekstil garmen dari pabrik-pabrik sendiri. Tak perlu kalian impor kalo bisa produksi sendiri.”

“Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, Indonesia will rules the world..”

Terlepas dari kebenaran cerita ini, saya hanya ingin sampaikan sudah saatnya generasi bangsa negeri Indonesia membuka hati dan mata, agar tidak terlena dengan produk luar yang masuk ke negara kita. Sehingga kita melupakan produk dalam negeri. Ketergantungan dengan produk negara lain mengakibatkan negara kita menjadi miskin padahal negara kita kaya. Ibarat pepatah, “Mati kelaparan di tengah makanan yang berlimpah ruah”. Uji Wong Plembang, “lolo nian” he..he..he..

Merdeka!!!

– Thanks to Ardy

Jangan Pernah Pindah ke Lain Hati

Curhat 3 Komentar »

Para Dulur,

Tak terasa hampir satu bulan, laman kesayangan ini ‘koma’ alias ’sekarat’. Tidak ada berita yang bisa dibaca selama satu bulan, tidak ada posting yang dapat dilakukan selain memandangi satu halaman yang berisikan kata-kata Benakat.com Reborn.

Semula bermula dari rasa ketidaksabaran dan ingin mendapatkan sesuatu yang ‘murah’, sehingga tempat bernaung (baca: hosting) Benakat.com sempat dialihkan ketempat yang baru, tidak lagi ditempat asal dimana Benakat.com dilahirkan, yakni Pasar Hosting (PH). Ternyata pindah ke lain hati sangatlah berbahaya, terutama jika hati yang baru ternyata tidak seindah harapan dan tidak sebaik hati tempat yang lama.

Saat pindah ke lain hati untuk bernaungnya Benakat.com, semua posting yang telah dibuat sejak tahun 2007 lenyap begitu saja tanpa bekas, yang ada hanya tampilan direktori rootnya saja tanpa ada file apapun. Sehingga jika Benakat.com diakses akan membuat pengunjung bingung kemanakah gerangan isi Benakat.com? Saat dikonfirmasi ke tempat naungan yang baru, jawaban dari pihak yang berkepentingan sunggung membuat pusing kita yang awam ini, ternyata mereka tidak mau peduli dengan urusan isi dari halaman website kita, yang mereka pikirkan adalah hanya memindahkan lokasi kita membayar saja, tidak perduli dengan isi website kita yang lama. Mereka seolah-olah lepas tangan dan malah menyuruh kita meminta data dari tempat naungan (baca: hosting) asal kita sebelum dilakukan transfer.

Tanpa pikir lagi, akhirnya kami melakukan pendekatan dengan tempat naungan yang lama (baca: hosting) pada hari Jum’at (1 November 2008). Solusinya kamipun harus kembali ke hati yang lama. Apa boleh buat, daripada melihat isi Benakat.com kosong melompong tidak ada apa-apanya. Pada hari Senin (3 November 2008) pembayaran ‘mahar’ pun dilakukan pada pukul 1 siang hari untuk kembali ‘rujuk’ dengan hati yang lama Pasar Hosting (PH). Tepat jam 17.00 wib, kontak dengan salah seorang kru Pasar Hosting (PH) pun dilakukan, saat itu yang bertugas adalah Mbak Emil. Dengan sigap Mbak Emil membantu kami melakukan pemulihan Benakat.com hingga pemindahan dari Server USA ke Server Indo. Luar biasa, hanya dalam waktu 3 jam, tanpa kami harus melakukan apapun (hanya duduk manis saja, menjawab pertanyaan bila diperlukan), Benakat.com pulih kembali dari ‘koma’ selama 1 bulan. Salut untuk Pasar Hosting (PH), kamipun perjanji tak akan pernah pindah kelain hati lagi.

Wassalam

Pecah Telok, Tradisi untuk Anggota Baru Wong Kito

Curhat 1 Komentar »

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menunaikan salah satu syarat untuk menjadi penghuni rumah di komunitas blogger terkenal, Wong Kito, yakni PECAH TELOK. Apakah tradisi PECAH TELOK ini? Setelah mengajukan diri sebagai anggota baru, maka saya wajib memperkenalkan diri didalam milis Wong Kito dengan cara unik dan kreatif dan harus dengan membuat posting baru. Jika posting di millis tersebut direspon sebanyak minimal 50 oleh anggota lama dan senior, maka dinyatakan saya LULUS!. Inipun dengan ketentuan, saya tidak boleh mereply posting tersebut melebihi 10 kali.

Berbagai respon saya dapatkan, dan sesuai aturan saya tidak boleh marah atau tersinggung sedikitpun saat menbaca respon dan balasan e-mail dari para anggota lama. Namanya juga anggota baru, jadi harus bersedia di ospek. Berikut beberapa cuplikan respon dari rekan-rekan penghuni Wong Kito :

Pak Presiden Negur Bupati yang Tidur!

Curhat Katek Komentar »

Ha…ha…ha….

Mengapa langsung tertawa dulu? Maaf, para Dulur. Ini dikarenakan Penulis geli saja. Bagaimana tidak, akhirnya terlihat juga kualitas para pemimpin kita. Seorang pemimpin daerah (Bupati), tertidur saat mendengerkan pidato Pak Presiden. Wajar saja Pak Presiden berang, dia sedang serius-seriusnya menyampaikan kata-kata amanat, ada Bupati yang ketiduran. Bukannya anak SMA lagi nih, sudah banyak pengalaman dan seorang pemimpin rakyat di daerahnya.

Jadi, wajar saja jika negara ini makin tidak jelas arahnya. Siapa yang sengsara? Ya rakyatlah, saat kampanye tidak salah-salah selalu mengatasnamakan rakyat. Jika sudah jadi pemimpin (Presiden, Gubernur, Bupati) boro-boro mau mikirkan nasib rakyat yang semakin hari semakin susah ini. Pengangguran dimana-mana, dari mana rakyat akan makan dan hidup tentram. Yang ada para pemimpin cuma mikirin diri sendiri, mungkin ingin mengembalikan modal kampanye yang katanya bisa habis ratusan juta sampai milyaran rupiah ya, coba tanaken kenapa?

Untung saja, bukan Penulis yang jadi Pak Presiden, he..he..he.. Mungkin si Bupati itu sudah dipecat saat itu juga. Harusnya Pak Presiden memang tegas, tapi bukan cuma soal itu saja, seluruh pemimpin dan pejabat itu harus ditindak tegas, jika sudah jelas-jelas korupsi, merugikan negara trilyunan rupiah, mengapa tidak dipotong saja kepalanya ya. Baguskan untuk membuat jera dan takut pemimpin dan pejabat yang lainnya supaya tidak sembarangan menggunakan uang rakyat dan tidak membuat rakyat sengsara.

Nah…, satu lagi yang Penulis keheranan sampai saat ini, pemerintah sedang menggalakkan rakyat untuk pindah dari kompor minyak (karena minyak tanah sudah habis mungkin) ke kompor gas. Lha… mengapa untuk mendapatkan tabung gasnya saja rumit dan repot. Jadi apa saja kerjaan pejabat terkait? Apa tidak ada koordinasi? Walah…. benar-benar menunjukkan tidak profesionalnya pejabat-pejabat yang berwenang. Selalu kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan malah membuat masalah baru.

Sudah ah… makin banyak nanti ngomongin para pemimpin negeri ini. Semoga ALLAH SWT memberikan hidayah untuk para pemimpin negara tercinta ini. Dan memberikan kesadaran bahwa amanat yang diemban haruslah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya penuh tanggung jawab dan karena kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
Amin…

Kemanakah Hilangnya Hutan Kita?

Curhat Katek Komentar »

Sebelumnya, Penulis menyampaikan minta maaf kepada semua pihak bila mana tulisan ini tidak berkenan dihati.

Di dalam lubuk hati yang terdalam, Penulis ingin sampaikan jika tulisan ini adalah merupakan wujud prihatin terhadap keadaan sekitar kita yang ternyata semakin lama semakin amburadul. Saat ini ternyata ada sekelompok orang serakah yang semakin lama semakin tidak tau diri. Tanyaken siapa?

Berawal dari kunjungan Penulis ke tanah kelahiran orangtua nun jauh disana. Pada saat kunjungan tersebut Penulis sempat bertemu dan berbincang-bincang dengan salah satu tokoh masyarakat yang lumayan vokal dalam hal membela tanah tumpah darahnya.

Berkisahlah sang tokoh masyarakat atas perubahan lingkungan yang ternyata semakin lama semakin tidak karuan. Contoh saja, jika dahulu hujan walaupun hujannya sangat deras tidaklah pernah terjadi banjir bandang yang menenggelamkan desa kelahirannya. Hal ini bukan tidak beralasan karena memang telah terjadi banjir besar yang menenggelamkan seluruh kawasan desa, terjadi sebelum Penulis melakukan lawatan. Dan memang masih ada bekas dan bukti nyata betapa dalamnya banjir tersebut dengan ketinggian sekitar kepala orang dewasa terlukis jelas di beberapa batang pohon kapuk (sayang Penulis lupa mengabadikannya).

Baca selengkapnya …